Keterampilan Berbicara Bahasa Arab, Kooperative Learning Type Time Token


1. Keterampilan Berbicara Bahasa Arab
Keterampilan berbicara (Maharah al-kalam/ Speaking skill) adalah kemampuan mengungkapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan pikiran berupa ide, pendapat, keinginan, atau perasaan kepada mitra bicara (Hermawan 2011:135).
Menurut Effendy (2009:139) kemahiran berbicara merupakan salah satu jenis kemampuan berbicara yang ingin dicapai dalam pengajaran bahasa modern termasuk bahasa Arab. Berbicara merupakan sarana utama untuk membina saling pengertian, komunikasi timbal balik, dengan menggunakan bahasa sebagai medianya.
Dari pengertian tersebut peneliti menyimpulkan bahwa berbicara adalah kegiatan mengungkapkan gagasan, pikiran, pendapat, saran, usul melalui kegiatan mengungkapkan secara lisan untuk memenuhi kebutuhan berkomunikasi dengan masyarakat disekitar kita.
1.1. Aspek Keterampilan Berbicara
Berbicara dalam bahasa asing atau bahasa kedua termasuk keterampilan dasar yang merupakan tujuan dari pembelajaran berbahasa. Dan berbicara sendiri merupakan sarana berkomunikasi dengan orang lain. Dalam berbicara terdapat dua komponen penting yaitu memahami lawan bicara dan membuat lawan bicara paham terhadap pesan yang ingin disampaikan.
Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Ahmad Fuad Efendy (2009:139) tentang unsur-unsur keterampilan berbicara meliputi: (1) Kemampuan mendengarkan, (2) Kemampuan mengucapkan, (3) Penguasaan (relatif) kosakata dan ungkapan yang
memungkinkan siswa dapat mengkomunikasikan maksud, gagasan atau pikirannya. Peristiwa berbicara akan berlangsung apabila dipenuhi sejumlah persyaratan. Persyaratan itu antara lain: (1) Pengirim: orang yang menyampaikan pesan; (2) Pesan : isi pembicaraan; (3) Penerima : orang yang menerima pesan;(4) Media : bahasa lisan;(5) Sarana : waktu, tempat, suasana, peralatan, yang digunakan dalam penyampaian pesan; (6) Interaksi : searah, dua arah, atau multi arah; (7) Pemahaman: ada saling pengertian.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa dalam berbicara terdapat aspek yang sangat penting yaitu memahami adanya lawan bicara, adanya pesan yang disampaikan dan membuat lawan bicara paham terhadap pesan yang ingin disampaikan.
1.2 Faktor - faktor Penunjang Keefektifan Berbicara
Seorang pembicara yang baik, harus memberikan kesan bahwa ia menguasai masalah yang dibicarakan, penguasaan topik yang baik akan menumbuhkan keberanian dan kelancaran. Selain menguasai topik, seorang pembicara harus berbicara (mengungkapkan bunyi-bunyi bahasa) dengan jelas dan tepat. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat dapat mengalihkan perhatian pendengar.Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan seseorang untuk dapat menjadi pembicara yang baik. Faktor-faktor tersebut adalah faktor kebahasaan dan nonkebahasaan Arsjad dan Mukti (dalam Sana, 2011:39).
Menurut Efendy (2009:153) unsur kebahasaan dan non-kebahasaan sebagai berikut:
Aspek Kebahasaan, meliputi: (1) Pengucapan (makhraj), (2) Kejelasan suara (shifatul huruf), (3) Penempatan tekanan (mad, syiddah), (4) Nada dan irama, (5) Pilihan kata, (6) Pilihan ungkapan, (7) Susunan kalimat.
Aspek Non-kebahasaan, meliputi: (1) Kelancaran, (2) Penguasaan Topik, (3) Keterampilan, (4) Penalaran, (5) keberanian, (6) Kelincahan, (7) Ketertiban, (8) Kerajinan, (9) Kerjasama.
Dari paparan para ahli diatas, peneliti dalam penelitiannya menggunakan 5 aspek penilaian, yaitu: pengucapan, susunan kalimat, nada dan irama, penguasaan topik, keberanian. Penelitian memilih lima aspek tersebut dengan pertimbangan telah mencakup aspek kebahasaan dan non-kebahasaan dalam penilaian keterampilan berbicara.

1.2. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative learning)
Cooperative learning berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama sama dengan saling membantu satu sama lainya sebagai satu kelompok atau satu tim.
Kelough (dalam Effendy, 2009:195) mendefinisikan Cooperative learning sebagai suatu macam strategi pembelajaran secara berkelompok, siswa belajar bersama dan saling membantu dalam membuat tugas dengan penekanan pada saling support di antara anggota. Siswa yang belajar dalam kelompok akan belajar lebih banyak dibandingkan siswa yang belajar dalam bentuk klasikal.
Menurut teori motivasi, tujuan belajar kooperatif adalah menciptakan suatu situasi keberhasilan dapat tercapai bila siswa lain juga mencapai tujuan tersebut. maka pembelajaran bersifat kooperatif, bukan kompetitif, dan keberhasilan belajar adalah keberhasilan kelompok bukan keberhasilan individu.
1.2.1 Prinsip-prinsip Pembelajaran Kooperatif
Adapun Prinsip-prinsip yang mendasari pembelajaran kooperatif menurut Effendy (2009:196):
a.     Saling ketergantungan positif (Possitive interdependence) artinya anggota kelompok menyadari bahwa mereka perlu bekerja sama untuk mencapai tujuan. Dalam pembelajaran kooperatif, guru dituntut untuk mampu menciptakan suasana belajar yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Siswa yang satu membutuhkan siswa yang lain, dan sebaliknya.
b.        Interaksi tatap muka (Face to face interaction), semua anggota berinteraksi dengan saling berhadapan. Menuntut para siswa dalam kelompok saling bertatap muka sehingga mereka dapat melakukan dialog, tidak hanya dengan guru, tetapi juga dengan sesama siswa Nurhadi dan Senduk (dalam Wena 2009:191).
c.     Akuntabilitas individual (Individual accountability), setiap anggota harus belajar dan menyumbang demi pekerjaan dan keberhasilan kelompok.
d.          Komunikasi antaranggota (Use of collaborative/Social skills), keterampilan bekerjasama dan bersosialisasi diperlukan, untuk itu diperlukan bimbingan guru agar siswa dapat berkolaborasi.
e.      Pemrosesan kelompok (Group Processing), siswa perlu menilai bagaimana mereka bekerja secara efektif.
2.1.7 Tujuan Pembelajaran Cooperative Learning
Pada dasarnya model pembelajaran cooperative learning dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum Ibrahim, dkk. (2000:7), yaitu:
1) Hasil belajar akademik
Dalam cooperative learning meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar.
2) Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lain model cooperative learning adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.
3) Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan penting ketiga cooperative learning adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi.
1.2.3 Keunggulan dan Kelemahan Cooperative Learning
Jarolimek & Parker (1993) mengatakan terdapat keunggulan dan kelemahan yang diperoleh dalam pembelajaran cooperative learning (dalam Isjoni 2012:24-25).  Adapun keunggulan model pembelajaran cooperative learning antara lain, (1) Saling ketergantungan yang positif; (2) adanya pengakuan dalam merespon perbedaan individu; (3) siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas; (4) suasana kelas yang rileks dan menyenangkan; (5) terjalinnya hubungan yang hangat dan bersahabat antara siswa dengan guru; (6) memiliki banyak kesempatan untuk meng-ekspresikan pengalaman emosi yang menyenangkan.
Adapun kelemahan model pembelajaran cooperative learning antara lain, (1) guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang, disamping itu memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran dan waktu; (2) agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar maka dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai; (3) selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung, ada kecenderungan topik permasalahan yang sedang dibahas meluas sehingga banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan; (4) saat diskusi kelas, terkadang didominasi oleh seseorang, hal ini mengakibatkan siswa yang lain menjadi pasif.
1.3 Pengertian Pembelajaran Time Token
Time token berasal dari kata “time” artinya waktu dan “token” artinya tanda. Time token merupakan model belajar dengan cirri adanya tanda waktu atau batasan waktu. Batasan waktu disisni bertujuan untuk memacu dan memotivasi siswa dalam mengeksploitasi kemampuan berfikir dan mengemukakan gagasannya. Menurut Arends, time token adalah struktur yang dapat digunakan untuk mengajarkan keterampilan sosial dan berpartisipasi agar menghindari siswa mendominasi pebicaraan atau siswa diam sama sekali.
Pembelajaran kooperatif time token merupakan salah satu pembelajaran untuk meningkatkan perolehan akademik dan untuk mengajarkan keterampilan sosial/kelompok, oleh karena itu siswa diharapkan bekerja saling membantu dalam kelompok kecil dan penghargaan yang diberikan secara kooperatif Ibrahim (dalam Yumerisa 2013:3).
Time token merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang menuntut seluruh siswa untuk terlibat aktif selama proses pembelajaran Ibrahim (dalam Yumerisa 2013:3). Pada umumnya siswa dalam suatu kelas belajar memiliki sekelompok kecil siswa yang mendominasi percakapan dan ada sejumlah siswa yang malu dan tidak pernah berbicara sama sekali. Time token membantu pembagian peran secara lebih merata.
1.3.1 Karakteristik Pembelajaran Time Token
Pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe time token dapat memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya; (2) kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah; (3) membagi tugas dan tanggung jawab bersama; (4) penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu; (5) Pemberian kupon bicara pada setiap siswa.
Berdasarkan kutipan di atas maka suatu pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe time token ditunjukkan dengan adanya pembagian kelas menjadi kelompok-kelompok kecil. Dalam kelompok-kelompok tersebut terdapat keragaman pada aspek kemampuan akademik, sehingga siswa dengan daya serap terhadap materi yang rendah dapat dibantu oleh temannya yang lebih menguasai. Pemberian kupon pada siswa di setiap kelompok dengan secara acak dan guru menyuruh salah satu kelompok untuk menjawab pertanyaan dari guru tersebut.Ini memungkinkan siswa dapat siap semua, dan dapat melakukan diskusi dengan sugguh-sungguh. Kelompok-kelompok kecil tersebut juga harus benar-benar melakukan aktivitas belajar secara kooperatif yang berarti siswa tidak menuntaskan suatu materi dengan belajar individu melainkan belajar bersama, saling membantu, dan bertukar pikiran dengan siswa lainnya.
1.3.2 Langkah-langkah Pembelajaran Time Token
Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam pembelajaran time token ini sebagai berikut (Suprijono, 2009:133) :
a.       Kondisikan kelas untuk melaksnakan diskusi (cooperative learning/CL)
b.      Tiap siswa diberi kupon berbicara dengan waktu ± 30 detik.
c.       Tiap siswa diberi sejumlah nilai sesuai waktu yang digunakan.
d.      Bila telah selesai bicara kupon yang dipegang siswa diserahkan. Setiap berbicara satu kupon.
e.       Siswa yang sudah habis kuponnya tidak boleh bicara lagi, dan bagi siswa yang masih memegang kupon harus bicara sampai kuponnya habis.
2.1.12 Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Time Token
Pada dasarnya setiap model pembelajaran memiliki kelemahan dan kelebiahan, tidak ada model pembelajaran yang hanya memiliki kelebihan saja dan tidak mempunyai kekurangan. Namun, meskipun adanya kekurangan dalam model pembelajaran, sebisa mungkin seorang guru harus profesional dalam menjalankan tugasnya itu. Kelebihan dan kelemahan model pembelajaran time token yaitu (http://www.sriudin.com/2012/01/model-pembelajaran-time-token.html):
Kelebihan model pembelajaran Time Token adalah:
1.      Mendorong siswa untuk meningkatkan inisiatif dan partisipasinya.
2.      Siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali
3.      Siswa menjadi aktif dalam kegiatan pembelajaran.
4.      Meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi (aspek berbicara).
5.      Melatih siswa untuk mengungkapkan pendapatnya.
6.      Menumbuhkan kebiasaan pada siswa untuk saling mendengarkan, berbagi, memberikan masukan dan keterbukaan terhadap kritik.
7.      Mengajarkan siswa untuk menghargai pendapat orang lain.
8.      Guru dapat berperan untuk mengajak siswa mencari solusi bersama terhadap permasalahan yang ditemui.
9.      Tidak memerlukan banyak media pembelajaran.
Sedangkan kekurangan dari model pembelajaran Time Token adalah:
1.      Hanya dapat digunakan untuk mata pelajaran tertentu saja.
2.    Tidak bisa digunakan pada kelas yang jumlah siswanya banyak
3.  Memerlukan banyak waktu untuk persiapan dan dalam proses pembelajaran, karena semua siswa harus berbicara satu persatu sesuai jumlah kupon yang dimilikinya.
4. Mengurangi kesempatan berfikir siswa yang memiliki banyak pendapat sehingga sulit mengutarakan pendapatnya secara maksimal karena waktu yang diberikan terbatas.

0 Response to "Keterampilan Berbicara Bahasa Arab, Kooperative Learning Type Time Token"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel